Ketika ku dengar nama ibu. Yang teringat adalah seorang wanita yang rupa, jalan pikirannya, sikapnya tidak jauh berbeda denganku. Ibu. Wanita yang tegar. Wanita penuh inspirasi dan melindungi dengan kedamaian. Seakan mentari menyejukan hati ini.
Murobbiah pertamaku yang bertahun-tahun bersamaku. Dialah Ibuku. Dia bukan hanya melahirkanku tapi juga melakukan segalanya untukku. Menjagaku, menghiburku, mendamaikanku, menjinakkanku, melindungiku, merwatku, mendidikku, memotivasiku, mengamatiku, memperhatikanku, dan semuanya. Tidak akan dapat aku tulis semua karena dia seorang bidadari yang diutus Allah untukku, dan aku tidak akan bisa menyesal mempunyai ibu seperti itu.
Jika seandainya aku memiliki ibu seorang istri presiden, aku tidak akan seperti ini. Jika aku memiliki ibu seorang budak Turki, aku tidak akan menjalani hidup seperti ini. Jika aku memiliki ibu seorang rahib nasrani, hatiku ini hanya berisi kekosongan. Jika aku memiliki ibu yang bukan seperti ibuku, watakku tidak akan seperti ini. Tapi Allah memberiku ibu yang sangat tepat untukku. Karena aku ada karena ibuku ada. Aku seperti ini karena Allah member ibu yang seperti itu. Dan itu adalah takdir.
Kadang, kekhawatiran itu datang. Ketika ibuku sujud yang sangat lama tidak seperti biasanya. Takut akan ditinggalkan olehnya. Apakah dapat diri ini yang rapuh hidup tanpa beliau? Apakah sanggup diri ini menjalani malam-malam tanpa melihatnya tidur nyenyak? Apakah sanggup diri ini melihat televisi tanpa ditemaninya? Apakah sanggup diri ini pulang dari aktivitas sehari-hari tanpa melihat sosoknya?
Aaaahh… ibu…. Jangan tinggalkan aku dulu. Meski itu pasti. Pasti bahwa Allah barkehendak untuk memisahkan kita. Aku masih ingin melihat seyummu. Melepas lelah bersamamu. Menonton sinetron bersamamu. Mendengarkan tilawah Qur’anmu. Mendatangi majelis bersamamu. Aku sungguh berharap, ibu masih ada menyaksikan aku menjadi sarjana, menyaksikaanku menikah, menguatkanku untuk melahirkan cucumu, dan mewujudkan semua harapanmu. Karena aku ingin membahagiakanmu. Aku ingin melihatmu bangga padaku yang selama ini selalu menyusahkanmu.
Ibu… betapa aku mencintaimu. Jika aku ingat dirimu…. Aku ingin bersamamu disurga nanti. Bagiku, ibu pantas mendapatkan surga. Kerena jihadmu dan kesabaranmu menghadapai semua ujian dan derita didunia ini. Jazakillah khairan katsir… bu… nanti akan kuteriakan “IBU…. AKU SUDAH JADI SARJANAA!!!!”
