Minggu, 26 Desember 2010

Sebuah Jalinan Kasih part 1

Berat kurasa hari-hari itu. Dimana aku benar-benar meraasa sendiri. Masih terngiang ditelingaku sebuah kalimat yang dia ucap “Kita buat perjanjian, jika aku bisa menyelesaikan ini, kamu harus merubah sikapmu dikelas dan ke fulannah”. Betapa entengnya dia! Dia hanya menyelesaikan saluran air yang tersumbat, jika dibandingkan diriku yang harus berubah. Dia kira aku ini Saras 008? Bukanya itu suatu hal yang berat dan membutuhkan waktu yang lama dengan kondisi yang sedang labil ini?

“ Ehm, dasar!” jawabku padanya dan melenggang pergi darinya.

Hari-hari selanjutnya, aku menjalani hidup dengan sendirian. Sepi. Aku tidak tau harus bercerita kesiapa. Menangis kepundak siapa. Berteriak kemana. Dunia serasa sempit bagiku. Aku pun belum bisa berubah. Sedikit pun hendak untuk memperbaiki hanya sebuah lelucon. Aku takut untuk kembali bersama mereka. Pikirku, mungkin ini saaatnya berpisah.

Jadilah, aku senang, susah, marah, tertawa, sedih, dan semua hanya aku rasakan sedirian. Ahh.. benar-benar berat hari-hari itu. Ketika aku sudah terpisah dengan mereka, masih saja aku saksikan kebersamaan dan kebahagian mereka. Rasanya lebih baik kehilangan dan tidak terlihat lagi dari pada kehilangan tapi tetap terlihatr dan dimiliki orang lain.

Cemburu, iri, dan sedih serasa menyulut hati ini dengan cepat. Berlari dan menghindar tapi tak mampu. Selalu saja bertemu. Memalingkan muka pun percuma. Pergi! Pergi! Aku harus pergi dan segera pergi dari sini! Aku sudah tidak betah lagi!.

Berjuang sendiri. Berjalan sendiri. Setiap malam sudah berbeda. Serasa gelap. Dan setiap pagi datang, ketakutan menggelayuti pikiranku. Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya hari-hari itu aku tidak ke sekolah? Namun, disisi lain masih ada mata pelajaran dan tugas-tugas sekolah yang menuntutku untuk tetap ke sekolah. Dan mengulangi sakit yang sama.

Adakah ini berakhhir? Jika ada seorang bertanya “ Lalu ingin mu seperti apa setelah ini, jika kau begini terus?” Dan seorang lagi bertanya “Memang tidak butuh teman?” Entahlah aku tidak tau.

Suatu ketika, ibu mendekatiku dan bertanya. Setelah ibuku melihat aku menangis sepulang sekolah. Mungkin sudah lama ibuku tidak melihatku menangis sehebat itu. Memang aku belum menceritakan kepada siapa pun. Karena aku tidak dapat mempercayai orang lain. Dan aku tidak ingin mencari-cari perhatian. Bercerita kesana-sini tapi tidak ada solusi dan tindakan. Hanya mengobral aib.

Dan inilah ibuku. Hanya ibuku yang dapat kupercayai. Aku mulai bercerita kepadanya. Hanya ibuku yang langsung bertindak meski tidak langsung dari tangan beliau. Dan ibuku yang memahamiku. Ibuku menyuruhku unuk menyampaikan semuanya kepada mereka, membuka hati lagi, menceritakan apa yang sebenarnya dan apa yang aku inginkan. Disinilah mulai aku saksikan dan aku rasakan bahwa banyak orang yang menyanyangiku.

Pernah sesaat aku berpikir buruk, pesimis dan aku mulai dipermainkan oleh setan. Sudahlah aku tak ingin menjadi depresi dan merusak kondisi jiwaku sendiri. Sejenak aku nikmati alam ini dan berusaha mengontrol hati ini. Aku pandangi langit biru. Betapa luasnya langit dan betapa kecilnya aku. Hamparan bumi ini pun luas. Gedung-gedung pun tidak akan bisa mememnuhi langit dan bumi. Tetap saja terlihat kecil. Masih lebih luas ciptan Allah. Diatas langit masih ada langit. Betapa ringkih, lemah, dan kecilnya aku.

Disana hanya ada aku dan Ukhti Fia. Semoga malaikat pun setia menemani. Beliau datang karena sekenario seorang akh slamet dan teman-teman mereka yang telah dikabari ibuku. Begitulah ibu bertindak. Sebelumnya, aku harus menceritakan semua pada Akh Slamet. Aku bergumam, “Aduh… gimana ya? Kasih tau engga ya….dia ikhwan gitu lo!”

Begitulah aku harus bercerita kepadanya. Dengan ragu aku bicara di handphone dengan sinyal yang terputus-putus dan handphone yang panas ditelinga. “ Ya gimana ya.. akh. Ya awalnya ane yang mulai, ane akh yang salah. Ane yang tiba-tiba membingungkan orang. Ane yang engga terkontrol…” menit-menit berlalu, dengan handphone yang tidak bermutu aku dengarkan tausiahnya, masukannya, dan pencerahannya. Sangat menyejukan. Mereka mengerti bahwa aku yang bersalah, tapi mereka tidak mempersalahkan. Tidak memojokanku. Mereka sungguh indah.

Memang Allah sudah menjamin pada para pendakwa itu. Apa yang diucapakan hanyalah tentang Allah dan RasulNya. Allah memang sudah berkehendak dan memilh mereka diantara semua umatNya. Persis seperti di QS. Al-A’raf : 181

“ Dan diantara orang-orang yang telah kami ciptakkan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berklaku adil.”

Aku terpukau menyaksikan kebaikan mereka. Sungguh sangat nyata dimataku apa yang dikatakan Allah “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orangyang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan. Mereka itu satu sama lain saling melindiungi…” Qs. Al’Anfal :72.

Begitu pun Ukhti Fia. Dipinggir danau itu pula, aku mendengarkan tausiah beliau yang menyetuh hati. “ Ukhuwah itu…” Ukhti fia memberi tausiah padaku “ Dikatakan sehat, jika kedua pihak saling bertanya ‘ Laras ini kenapa?’ dan anti pun bertanya ‘ mereka kenapa?’…”

Aku pun kembali teringat dan terpukau lagi dengat ayat Allah “ Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu menginfaqkan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, dia Maha perkasa, Mahabijaksana” Qs. Al-Anfal : 63.

“ ingat kan dek…” Ukhti Fia meneruskannya “ Anti dipertemukan karena Alllah, di jalan dakwah ini. Bukan seperti ikatan persahabatan yang lain. Ukhuwah ini beda.. dek..” banyak yang beliau sampaikan. Sehingga air mata ini memang pantas untuk keluar dengan diiringi tausiahnya.

Ukh, ada orang yang bertanya ke ane…”. Aku kembali bertanya pada beliau. “ Dia tanya ‘ Sebenarnya ane ini sayang engga seh sama si fulannah’ ane sendiri engga ngerti ukh.. gimana seh sayang itu karena Allah?”

“ Pertanyanmu sulit dek… cinta itu…”. Beliau seperti agak sulit menjawabnya “Cinta itu keikhlasan. Ikhlas untuk memberi dan ikhlas untuk di beri, ikhlas untuk bersama dan ikhlas untuk sendiri, ikhlas untuk menerima dan ikhlas untuk diterima, ikhlas untuk mendapatkan sesuatu dan ikhlas jika tidak medapatkan apa-apa, ikhlas… ya ikhlas untuk segalanya”

Aku hanya diam dan merenungi apa yang beliau katakan. Beliau datang karena Allah. Sebuah ketulusan yang Allah tunjukan . Sebuah proses pendewasaan yang Allah diujikan. Sebuah pelajaran dan hikmah yang Allah berikan.

Kamis, 23 Desember 2010

Ibu.. Aku Akan Menjadi Sarjana


Ketika ku dengar nama ibu. Yang teringat adalah seorang wanita yang rupa, jalan pikirannya, sikapnya tidak jauh berbeda denganku. Ibu. Wanita yang tegar. Wanita penuh inspirasi dan melindungi dengan kedamaian. Seakan mentari menyejukan hati ini.

Murobbiah pertamaku yang bertahun-tahun bersamaku. Dialah Ibuku. Dia bukan hanya melahirkanku tapi juga melakukan segalanya untukku. Menjagaku, menghiburku, mendamaikanku, menjinakkanku, melindungiku, merwatku, mendidikku, memotivasiku, mengamatiku, memperhatikanku, dan semuanya. Tidak akan dapat aku tulis semua karena dia seorang bidadari yang diutus Allah untukku, dan aku tidak akan bisa menyesal mempunyai ibu seperti itu.

Jika seandainya aku memiliki ibu seorang istri presiden, aku tidak akan seperti ini. Jika aku memiliki ibu seorang budak Turki, aku tidak akan menjalani hidup seperti ini. Jika aku memiliki ibu seorang rahib nasrani, hatiku ini hanya berisi kekosongan. Jika aku memiliki ibu yang bukan seperti ibuku, watakku tidak akan seperti ini. Tapi Allah memberiku ibu yang sangat tepat untukku. Karena aku ada karena ibuku ada. Aku seperti ini karena Allah member ibu yang seperti itu. Dan itu adalah takdir.

Kadang, kekhawatiran itu datang. Ketika ibuku sujud yang sangat lama tidak seperti biasanya. Takut akan ditinggalkan olehnya. Apakah dapat diri ini yang rapuh hidup tanpa beliau? Apakah sanggup diri ini menjalani malam-malam tanpa melihatnya tidur nyenyak? Apakah sanggup diri ini melihat televisi tanpa ditemaninya? Apakah sanggup diri ini pulang dari aktivitas sehari-hari tanpa melihat sosoknya?

Aaaahh… ibu…. Jangan tinggalkan aku dulu. Meski itu pasti. Pasti bahwa Allah barkehendak untuk memisahkan kita. Aku masih ingin melihat seyummu. Melepas lelah bersamamu. Menonton sinetron bersamamu. Mendengarkan tilawah Qur’anmu. Mendatangi majelis bersamamu. Aku sungguh berharap, ibu masih ada menyaksikan aku menjadi sarjana, menyaksikaanku menikah, menguatkanku untuk melahirkan cucumu, dan mewujudkan semua harapanmu. Karena aku ingin membahagiakanmu. Aku ingin melihatmu bangga padaku yang selama ini selalu menyusahkanmu.

Ibu… betapa aku mencintaimu. Jika aku ingat dirimu…. Aku ingin bersamamu disurga nanti. Bagiku, ibu pantas mendapatkan surga. Kerena jihadmu dan kesabaranmu menghadapai semua ujian dan derita didunia ini. Jazakillah khairan katsir… bu… nanti akan kuteriakan “IBU…. AKU SUDAH JADI SARJANAA!!!!”

Rabu, 22 Desember 2010

Teruntuk Kambing yang Manis…


Pagi setelah sholat ied, aku tak sabar dengan kiriman kambing yang telah aku pesan. Tak sabar untuk bertemu dengan kambing qurbanku…

Mbing…. Pertama bertemu denganmu… kau berlari… sangat menggelikan. Dan aku tak pernah merasa jijik padamu. Bulumu basah, putih yang tak lagi putih. Dan kau pun berteriak teriak “ mbekkk… mbeeekkk… mbeeekkk….”

Mbing… kamu tuh asset akhirat ku…. Jadi yang terbaik ya…. Besok kita udah ga ketemu lagi… senyum yang manisnya.. aku foto… buat yang terakhir kalinya di akhir hayatmu.

Itu awal pertemuan kita. Aku tak mengerti dari mana kau asalnya. Dari desa mana. Karena ketika kamu dibawa ke kota ini.. kamu terpisah oleh keluargamu dan dijual untuk mati. Ya kukira kau sudah mulai lelah dan stress dengan semua ini. Begitu kejamnya dunia bagimu. Maka dari itu kau selalu berteriak-teriak tak henti-henti. Mungkin kau rindu dengan bapak, ibumu dan saudara-saudaramu didesa. Sehingga banyak rumput hijau yang ada ribuan di hamparan tanah yang kau injak tak kau hiraukan. Padahal itu makanan favoritmu.

Kamu kuajak ke tempat banyak rumputnya. Agar kau sedikit terhibur. Dan dapat menikmati pemandangan kota yang di sekitarmu. Banyak mobil, motor, truk, bis, becak, angkot, kereta dan pesawat. Dan berbeda dengan asal desamu yang begitu damai. Mungkin kau terheran-heran. Dan bertanya “ Dimana aku?? akan dibawa kemana aku?? “ Tapi kau hanya berucap “ mbekkk… mbeeekkk… mbeeekkk…” mana aku tau perasaanmu. Jika aku tau akan aku katakan padamu.

Ya mbing.. mungkin ketika aku bermain-main dan mengelus-elus kepalamu… kau akan terhibur…. Dan kita berfoto bersama. Walaupun sangat konyol tapi aku seneng…

Mungkin jaket merahku ini sangat mencolok dimatamu. Karena selama ini, aku memperhatikanmu. Kemanapun aku berjalan selalu kau lihat. Kepalamu bergerak mengikuti kemana aku pergi. Dan aku merasakan kau bahagia. Mungkin sedikit…. Hahahahahaha…. Dan aku tersenyum manis padamu sambil melambaikan tangan dan berkata “ da.. daa… da… mbinnggg….”

Dan juga mungkin karena jaket merah ini yang membuatmu selalu menghampiriku. Menyeruduk-nyeruduk. Padahal kau terikat. Lucu sekali. Dan ketika aku berjalan menjauh darimu. Kau malah berteriak-teriak lagi. Tapi ketika kau mendekat kau diam.

Ya pertemuan kita hanya beberapa jam…. Aku senang dapat menolongmu dari tali yang kau buat rumit sendiri sehingga kakimu terjerat karena ulahmu sendiri. Dasar kau sangat bodoh sekali. Dan kita harus berpisah di Masjid Sholahudin ini.

Besok kau telah tiada dan tak berwujud jasadmu. Mengenaskan…. Tak berwujud. Dan mungkin menjadi sate atau gule… dan sebagainya….

Ketika aku ditawari untuk menyaksikan kematianmu. Aku menolak. Aku tak tega menyaksikannya. Karena aku membuat kenangan manis bersamamu.

Selamat tinggal kambinggg…. Kita berpisah dihari yang sama dengan hari awal pertemuan kita…. Da da daaa…. Kambing… senyum yang manisnyaaa…. Semoga nanti dapat bertemu lagi… dengan wujud utuhmu lagi dihari kiamat nanti… seperti yang Allah janjikan…..

Terlalu melankolis berimajinasi bersama kambing yang satu ini…. Kambing pertamaku di idul adha ini.

My Life is Colurfull

Kisah ini bermula dari awal pertemuanku satu persatu dengan mereka. Permulaan yang merindukan. Tidak indah tapi mengesankan. Di tengah tahun 2008 lalu…. Allah mempertemukanku dengan mereka, sebagai pewarna hidupku. Dan aku rela mereka mewarnai hidupku dengan warna-warna kesukaan mereka.

Seorang perempuan yang tidak sendiri, melainkan bersama teman-temannya. Mereka duduk di tersa masjid. Dia bukan aku, tapi dia bernama Mar atul Fitria. Seorang yang nampak sama dengan teman-teman lainnya. Sehingga sulit bagiku membedakannya. Gaya berjilbabnya, tinggi badan mereka, dan pakaian mereka hampir sama. Tapi tak sulit tuk berkenalan dan mendekatinnya.

“ Maaf, dapatkah aku meminjam kaos kakimu?”

Awal perminta mohonanku yang amat sangat. Kaos kaki yang dipakainya serta merta kupinjam padanya. Padahal baru kenal. Ada apakah gerangan?

Karena aku tak dapat bergerak keluar, berjalan-jalan di tempat umum tanpa kaos kaki. Sedangkan dirinya mungkin belum mengerti betapa pentingnya kaos kaki bagi seorang muslimah. Dan ada masalah serius dengan kaos kakiku saat itu. Mungkin dapat kupinjam sementara untuk dapat berjalan membeli kos kaki baru dikoprasi sekolah baruku.

Betapa sesungguhnya aku merasa jijik dengan kaos kaki bekasnya orang lain. Tapi tak mengapa. Darurat!. Nyatanya tidak ada kaos kaki di koprasi. Memang koprasi lama, Nampak terkucil dibelakang sekolah dan busuk!

“Ahh…. Dasar!! Kaos kaki aja ga jual! Kalah sama koprasi SDku dulu!!” geramku dalam hati….

Betapa membingungkan saat itu… tapi itulah awal pertemuan yang mengesankan bagiku selain bertemu dibengkel lukis dan lama kelamaan semakin akrab.

Kelas baru, seragam baru, buku baru, lingkungan baru yang terjadi diawal sekolahku. Aku menjadi seorang siswi SMK yang bukan lagi siswi SMP yang imut-imut. Tapi ada sebuah masalah kecil, aku tidak dapat mengenakan dasi. Kerena ketika aku SMP aku tak pernah mengenakan dasi. Di SMPku murid perempuan tidak di suruh untuk mengenakan dasi melainkan mengenakan jilbab lebar. Ketika itu ada seorang teman perempuan yang mempeributkan dasi. Dan aku ikut dalam masalahnya.

Dia laki-laki yang tak begitu menarik perhatian. Seorang yang betah berdiam diri tanpa bicara. Sehingga dirinya mudah dilupakan. Seorang yang berkulit paling putih bersih diantara teman-teman sekelas. Dia bernama Arfian Hendra Pamungkas. Seorang kedua yang aku kenal. Ternyata membantuku mengenakan dasi dan mengajariku.

Sehingga sampai sekarang aku memakai caranya. Hanya caranya yang aku tau dan aku hafal. Entah benar atau tidak. Nyatanya hasilnya tidak pernah rapi. Tapi apalah arti kerapian sebuah dasi jika tiap hari kututup rapat dengan jilbabku.

Pertemuan yang tidak mengesankan bukan? Ternyata lama menjalani hidup sekelas, setempat prakerin, seorganisasi. Cerita yang begitu menggemaskan terjadi bersamanya. Yang tak perlu kuceritakan lebih dalam.

Dia. Seorang yang sok kenal, sok akrab. Tiba-tiba duduk di depan bangkuku dan bercerita layaknya dalang. Mengoceh sana sini layaknya ayam betina yang baru bertelor. Bukan cerita sebenarnya, dia hanya ingin mengajak ngobrol tanpa peduli siapa yang diajak bicara.

Sambil dia mengoceh, dia mempermainkan stipo ditangannya. Layaknya seorang siswa sakit mental, tiba-tiba dia menulis diatas bangkuku. “GINUNG WAS HERE”. Aaaahhh… dari sini aku mengenalnya. Setelah berbuih-buih bicara dan membuatku tertawa hingga perutku sakit. Lalu aku mengerti bahwa orang ini bukan teman sekelasku, dia teman Arfian yang ngocol didepanku. Sedangkan Arfian sendiri tidak ada dikelas. Artinya dia tiba-tiba masuk seenaknya kekelas orang lain.

Ginung bagiku seorang laki-laki yang paling suka ngerumpi dengan siapa saja. Seperti seorang perempuan yang bertemu dengan teman lamanya. Dia laki-laki yang suka membantu orang meski dia musuhnya sekalipun. Tanpa pahmrih. Itulah dia. Maka jangan sekali-kali merasa diatas awan jika dibantu dia. Karena baginya hanyalah sebuah kewajiban sebagai sesama hamba Allah. Bukan hal yang spesial baginya.

Orang ke empat yang aku kenal setelahnya. “ he… pinjem buku PPKN!” kenal tidak, sekelas bukan, gantengpun tidak, tiba-tiba nodong-nodong pinjam buku. Dengan suara yang paling ngebass mengalahkan suara yang sedang ku dengar.

Tanpa aku bertanya namanya, aku serahkan saja bukuku agar cepat pergi dari kelasku. Di kelas ketika itu hanya aku dan dua orang teman yang belum akrab denganku. Dan dengan nyakinku, pasti nanti dia kembalikan.

Suatu ketika setelah kejadian ini, aku adalah seorang sendirian yang menajadi anggota SKI kelas X dengan kakak-kakak kelas yang aku tidak nyakin keberadaannya. Ya aku mengerti dan merasakan organisasi SKI disekolahku mengomabang-ambing. Serasa akan runtuh. Kerena telah lama tidak ada kegiatan.

Setelah aku ditraining oleh USC untuk berdakwah. Organisasi yang memegang SKI disekolahku. Jadilah aku seorang diantara orang-orang yang bersemangat berdakwah. Semangat mereka mengalir dijiwaku. Dan aku merasa bersaudara sangat dekat dengan mereka, perserta training dan panitia training. Dan aku bertekad setelah lulus dari SMK ini akan berjuang bersama mereka meski aku bukan apa-apa.

Ya karena mereka, orang-orang shalih itu, aku bersemangat mengajak banyak orang untuk mengikuti SKI dan berjuang menegakan syariat islam yang lurus di negeri SMKN 11 Surabaya. Aku sangat nyakin pasti ada yang akan bergabung. Kuajak semua orang yang kukenal, tanpa peduli orang itu paham agama atau tidak. Begitu muluk-muluknya aku.

Hingga aku bertemu dengan laki-laki yang meminjam buku PPKN ku itu. Dia yang bekulit hitam yang berbeda jauh dengan Arfian, berambut keriting dan bersuara ngebass.

Serasa membalas teriakannya di kelasku suatu saat lalu “ he… mau ikut SKI ga? Ntar sabtu jam Sembilan ke mesjid ya!!!”. Semua orang ku ajak tanpa kukenal, tanpa peduli siapa.

Sabtu pukul 09.00, seperti yang kujanjikan di tahun 2008. Meski aku datang agak terlambat, aku tetap datang, karena aku sudah membuat janji dengan seorang akhwat untuk mentoring. Bayangkan saja!! Aku mengajak seorang ikhwan untu mentoring akhwat! Dakwah yang sungguh konyol bukan? Tapi ketika membuat janji ukhti itu menyuruhku mengajak semua anggota SKI, seingatku akan ada syuro’.

Tapi, Subhanallah!!! Hanya dia yang datang ke mesjid ini pukul 09.00. dia datang lebih awal dariku!! Dan duduk mengungguku sendirian. Termenung di masjid sekolah. Aku sungguh takjub!! Banyak orang yang aku undang hanya dia yang datang. Dan dia begitu percayanya padaku. Akhirnya kita berkenalan. Dia bernama Hasan Syaifuddin kelas grafis A.

Hasan, aku dan kawan-kawan lain memulai lagi membangun organisasi yang hampir runtuh setelah berkibarnya. Susah payah, kesana sini, mondar mandir, maju mundur, bolak balik. Aaahh..,. begitu menariknya ukhuwah kita. Hingga suatu saat aku melihat seorang Hasan menjadi seorang yang benar-benar ikhwan sejati diantara teman-teman seperjuangan di jalan dakwah ini. Aku sungguh kagum padanya.

Ini dia orang ke lima yang begitu unik. Begitu menjengkelkan tapi begitu tulus. Dia sangat usil!! Diawal bermula bertemu dengan dia. Dia seperti terpesona padaku, meggilaiku… hahahahaha… kurasa aku bagai sang putri yang dipuja-puja. Tapi benar! Dia sangat menjengkelkan!!

Dia terus saja memperhatikanku. Kemana saja. Dimana saja. Rasanya ingin kututup wajah ini dengan buku dan berlari pergi sekencang-kencangnya. Dia menanyai aku, bertanya namaku. Aku jawab tapi entah mengapa aku merasa centil. Dia jadi makin gemes. Aneh!!

Ketika sekolah mengadakan jalan sehat di tahun 2008 lalu, aku berjalan sendirian. Dia tiba-tiba mengikutiku dari belakangku. Aku menghindari becek, dia juga menghindari becek. Mengikuti setiap jejak langkahku. Aku ke kanan, dia ikut ke kanan. Aku ke kiri, dia ikut kekiri. Dia begitu gigih. Hingga aku benar-benar ketakutan padanya. Tak berujung.

Tapi semua penasaraku padanya sirna sudah, setelah dia bergabung di SKI. Akhirnya aku dan dia sama-sama akrab. Dia menjengukku ketika aku di opname di rumah sakit. Bukan dia saja yang menjenguk tapi bersama banyak orang. Tapi aku heran saja. “Bisa saja ni orang nyangsang disini…” aku membantin dalam hati “ jangan-jangan…. Dia naksir aku.. wah kurang cakep ne.. ga’ tipe banget”

Orang ke lima ini bernama Hastono Setyo Ladunni. Dia seorang yang begitu tulus, baik pada semua orang, begitu gigih, begitu semangat, dan ketika dia marah, sesuatu yang sangat menjengkelkan baginya. Dia tidak marah-marah tidak senonoh. Dia tidak akan membanting segala peralatan. Tapi dia aplikasikan marahnya ke pekerjaan dia akan membersihkan, merapikan, menyapu, mengepel, berkerja tiada henti dengan wajah paling merengutnya. Padahal sungguh terlihat sekali amarahnya dan badannya terlihat begitu capek. Tapi dia tidak mau berhenti hingga marahnya selesai. Orang yang bermanfaat meski sedang marah.

Merekalah… kelima orang ini. Aku masih ingin mendepkripsikan mereka lebih banyak lagi. Tapi itu tidaklah begitu penting. Banyak hal yang kulalui bersama mereka. Ada yang bersama-sama, ada yang berdua saja dengan salah satu diantara mereka. Nanti jika Allah menizinkannya akan aku dokumentasikan keindahan bersama mereka dengan tulisan-tulisanku.

Dan karena kehadiran lima orang ini aku sanggup meneriakan dalam kesunyian hidupku “ MY LIFE IS COLOURFULL”. Telah tiga tahun bersama mereka. Kini lambat laun satu persatu aku akan kehilangan mereka. Meski berat atau ringan. Pasti aku akan berpisah dari mereka. Karena roda-roda kehidupan masih berjalan. Selayaknya sebuah game ada level-level yang dilalui. Dan tiap level kondisinya berbeda dengan level lainnya. Ada yang lebih berat ada yang lebih ringan. Semua itu bergantung pada kehendak Sang Pembuat Permainan.

Memang butuh kebesaran hati untuk melepaskan mereka. Tapi jika ini memang kehendak Allah, apa yang dapat diperbuat? Kenangkan indah bersama mereka hanya menjadi sebuah kenangan. Ah bukan!! Bukan hanya sebuah kenangan. Tapi sebuah episode pembuktian nanti! Sebagai sebuah pertanggung jawaban. Ya… nanti… Semoga dapat bertemu kembali dan bermesra diSurgaNya.

Hari ini Aku Menangis Lagi.

Disana hanya ada bayanganku seorang. Seorang gadis berkacamata biru dan berjilbab hijau. Sangat menawan. Tapi apalah artinya itu semua jika tidak dapat nyaman dengan perasaan ini. Perlahan-lahan air mataku jatuh. Setetes demi setetes akhirnya tertumpah semua tak dapat ku tahan lagi.

Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Sebenarnya apa yang perlu kutakuti?

Sebelumnya, aku ada di kelas itu. Mengikuti segala aktivitas dikelas itu dengan menahan gejolak-gejaolak di hati ini yang semakin menguncang. Gejolak itu datang setelah aku melihat sosoknya. Dan aku menangis terus menangis….

Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Hatiku sendiri pun tak sanggup menjawabnya. Yang ada hanyalah rekaman-rekaman memori bersama dia dan mereka. Dan semakin aku memikirkannya, aku semakin terus menangis. Mengharu biru.

Apa semua yang pernah kulakukan itu salah? Apa Allah pernah tak meridhoi tingkahku, sikapku perbuatanku yang belum aku pahami? Ya mungkin…. Karena Allah tak ingin merusak ukhuwah islamiyah yang sebenarnya sangat indah. Akan tetapi…. Aku telah berbuat salah. Hingga inilah yang terjadi.

Atau apakah aku terlalu sombong membanggakan persahabatan itu. Sehingga Allah cemburu, dan Allah berkehendak memisahkan ini secara halus.

Tapi… semua yang Allah beri adalah hal yang sangat spesial. Aaahhh…. Harusnya aku hanya bersabar dan mecoba dengan keras untuk ikhlas. Hingga nanti kutemukan semua hikmah dibalik episode ini.

Sabtu, 10 Juli 2010

(Umar bin Khaththab)


Jika kalian melihat saudara kalian tergelincir melakukan suatu dosa, luruskan dan bimbinglah ia. Berdoalah kepada Allah supaya Dia menerima taubatnya dan janganlah kalian menjadi penolong bagi setan.

Ah, memang aku masih belia.....

Ehm..semua terjadi secara sadar bahwa aku kini telah menjadi siswi kleas 12 di SMKN 11. Tahun kemarin kulalui begitu buruk….ya nilaiku merosot drastis. Ini menjadi peringatan bagiku. Yang dulu aku selalu semangat, rajin, dan sopan. Tahun kemarin menjadi turun 75 %. Ya dulu aku selalu di peringkat pertama kini aku diperingkat ke 4. Bagus ya? Ya kerena teman-teman dikelas begitu bodoh. Ah tidak juga,mereka hanya malas. Sama seperti aku ditahun kemarin. Dikelas 11.

Aku malas kemarin, ya kuakui itu. Banyak catatan-catatan yang tidak berwarna merah lagi akan tetapi menjadi hitam. Banyak hal yang kulalui begitu saja. Dan sangat kelam. Di kelas sebelas ini adalah puncak-puncaknya aku menjadi siswi yang nakal. Ah…malu aku mengatakannya. Terlambat sekolah, seragam tak rapi, perkerjaan terlalikan. Hanya makan,tidur, solat, main-main dan problema asmara.

Ah, memang aku masih belia. Tapi aku ingin dimasa mudaku ini aku selalu berjalan di jalan kebenaran. Usiaku sudah menginjak 17 tahun. Jelas perjalananku masih panjang. Aku masih mempunyai impian yang belum terselesaikan. Akan kugapai semua impianku. Karena dengan izin Allah, aku berhak menjadi sukses. Sebagai bukti syukurku.

Aku ingin seluruh dunia mnyaksikan bahwa aku seorang muslim yang dapat menggenggam dunia. Bukan seorang muslim yang terlena oleh dunia. Dan bahwa aku seorang pemudi muslim yang sukses dunia akhirat.

Amin…..

Aku memang pernah mempunyai salah. Aku khilaf, maka cukuplah Allah yang memperingatkanku. Kini aku harus bangkit dari kefuturanku. Dengan pertolongan Allah…semua karena pertolongan Allah dan doa ibuku yang selalu dia panjatkan…

Terimah kasih…semua saudara-saudaraku…Tak cukup hanya kata terimah kasih akan tetapi kalimat indah dan doa ini…Jazakumullah Khairan katsir… atas segala kebaikan kalian…

Ah…jika kukenang masa laluku di kelas 11 ini. Tahun yang aku lalui dengan ke futuranku.. karena keterlenaanku pada dunia. Pada asmara yang tak kunjung membawa berkah. Kusudahi semua itu. Kulancarkan strategi-strategi baru. Untuk menggenggam dunia. Meletakannya ditangan bukan dihati.

Nasihat dari Ibnu Qoyyim

Orang yang berjalan menuju Allah dan hari kiamat, bahkan setiap orang yang berusaha menggapai cita-citanya, perjalanannya tidak akan bertepi. Di samping itu, tujuannya tidak akan tercapai kecuali dengan dua kekuatan, yakni kekuatan ilmu dan kekuatan amal.

(Ibnu Qoyyim)

Mutiara Hikmah dari Seorang Abu Darda

Kebaikan bukanlah karena banyaknya harta dan anak pinakmu, tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmumu, dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah ta'ala.

(Abu Darda')

Warisan dari Abu Bakar Asy Syibli

Jika engkau ingin merasa tenang dan tentram dengan Allah, maka janganlah engkau turuti kesenangan hawa nafsumu.

(Abu Bakar Asy Syibli)

Kamis, 18 Maret 2010

aku dan jiwa yang resah

Bismilah....
kumulai cerita ini dengan tangis, sesal dan haru....

Aku tak tau sejak kapan aku masuki ruang hitam gelap tanpa sekat ini.
Aku tak tau sebabnya aku tinggalkan apa yang aku pegang keras.
Aku tak tau mengapa ku lupakan cita-cita, kegiatan, dan semangat membara.

Kini semakin parah.
Aku tak mau lagi lebih parah dari ini. Aku tak mau lebih rendah dari ini. Kusimpan baik-baik sema aibku. Karena Allah juga menutupinya. Aku tak mau membukanya....

Hari-hari ku isi dengan lamunan, buaian, yang kosong tiada arti. Sungguh aku tak butuh bujuk rayunya. Aku tak butuh semua pengakuan ini. Karna aku sadar ini sia-sia. tak ada gunanya jika tidak dijalan yang halal.

Tapi yang kulakukan adalah sama. Tak ada bedanya dengan yang lain. Bukan karena seseoang, bukan karena dua orang, bukan karena tiga orang, bukan karena banyak orang, bukan karena fasilitas. Tapi hati ini mulai mengeras.

Ini masalah hati dan jiwa yang mulai gundah dan resah. Tak pernah bertemu denan Tuhannya. Hanya dekat dengan pengodanya...

Diriku kini....kalut

assalamualaikumwarokhmatullah...

Jika kamu
berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menuggu waktu sore.
pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.

HR.Trimidzi 2153

inilah aku

Foto saya
Sidoarjo, jawa timur, Indonesia
aku lahir di Sidoarjo tepatnya tahun 1993 aku tinggal bersama keluargaku yang santai. Aku masih bersekolah. Aku beruntung karena kau lahir dalam keluarga yang semuanya beragama islam.Tapi bukan berarti aku bebas dalam serangan setan yang akan mengoda dan melemahkan iman.Berpositive thinking dan berserah diri...itulah diriku,,yang selalu berusaha menjaga diri semoga aku dapat menempuhnya amien... Allah pun menyanyangiku selalu memberiku rezeki walo aku tak minta walo aku sering berbuat dosa tak juga Allah tapi juga Nabi Muhammad SAW karena kalo bukan karena beliau,,aku pun tak akan bisa mengenal islam yang sangat sempurna ini....aku tinggal Ayahku,seorang yang misterius bagiku Ibuku,,,yang pasti selalu menyanyangiku tapi tetap semua itu pasti karena Allah Dia mempertemukan aku dengan mereka Dia yang menjadikanku anak mereka Dia yang memberiku cobaan lewat mereka dan Dia mengajariku,mendidiku,membimbingku lewat mereka dan pasti tidak pantas aku durhaka padaNya dan kedua orang tuaku Dan dari sinilah aku mulai ceritaku, inilah aku, aku memiliki saudara yang sangat sepesial bagiku bismillahirrokhmanirrohkhim....