Jumat, 07 Januari 2011

Jenazah itu...


Kini sinar dimatanya sudah mulai meredup tidak seterang yang dulu. Hidupnya pun mulai sedikit berubah. Ada bintang yang hilang dihatinya. Ada senyum yang dulu menghiasi yang telah hilang dalam hari-harinya. Ada hati yang mulai gentar. Itulah ibuku. Matanya yang sayu, dan kepiluan yang tidak dapat di sembunyikan diraut wajahnya.

Setelah kakakku memulai hidup dialam barzah, seperti itulah ibuku. Tidak dapat kutahan tangisku, ketika melihat kegetiran ibuku. Ketegaran yang mulai luntur. Tangis ibuku yang tidak dapat berhenti hingga sekarang meski tidak merantap.

Nduk..sekarang hanya tinggal kamu” kalimat itulah yang diucapakan ibuku padaku setelah melihat jenazah kakakku diruang jenazah. Betapa mengharunya.

Jenazah itu adalah kakakku. Jenazah yang masih memakai jaket birunya. Jenazah yang kaos kaki yang berdarah dan berlubang. Jenazah yang memakai jilbab berwarna merah dan memakai rok ungu. Jenazah yang dua pekan lagi akan menjadi seorang istri. Dan jenazah yang akan menjadi sarjana. Kini tak terlihat lagi.

Aku merindukanmu kakakku. Masih teringat detik-detik perpisahan dengannya. Air yang bercampur dengan kapur barus membasahi badannya. Dia dimandikan banyak perempuan. Kain putih yang membalut badannya. Begitu dia sangat cantik.

Tapi ibu sudah tak mampu lagi menyaksikan kecantikannya yang memilukan. Bukan hanya menangis yang ibu lakukan, tapi juga doa yang tak henti-henti dan juga semua memori bersamanya muncul di benaknya dating bertubi-tubi.

5 februari 2010 lalu, episod itu terjadi. Setelah aku pulang sekolah, kaabar kakakku kecelakaan datang dari mulut mantan kekasihnya. Betapa ibuku tidak percaya akan semua yang diucapakan dia. Tanpa banyak bertanya pada dia. Aku, ibuku, dan bapakku langsung berangkat ke Rumah Sakit Umum di Sidoarjo. Ditengah perjalanan ibuku mencoba memastikan dengan menelpon polisi dan pihak rumah sakit. Tapi sungguh, bukan kabar yang diharapkan.

“ iya bu, ada yang bernama Rizka tapi tidak di UGD tapi langsung ke ruang jenazah” begitulah pihak rumah sakit mengabarkan kepada ibuku.

Bagaimana kacaunya ibuku. Betapa seperti dihujam beribu-ribu batu dari langit. Air mata sudah mulai tertumpah mendengar kabar itu hingga sekarang. Badannya yang kuat sebelumnya sudah mulai melemas. Sudah tidak tau apa yang akan dilakukan. Sudah tidak tau apa yang akan dikatakan.

Aku dan ibuku sudah ada didepan jenazah itu. Aku pun juga tak sanggup menahan tangis lagi. Itulah perpisahan yang nyata bersama kakakku. Itulah saat ketika aku sudah tidak dapat berbicang dengannya. Itulah akhir pertengkaranku bersamanya. Dan itulah akhir candaku bersamanya. Tapi tidak akan pernah doa ini berhenti.

Dan itulah awal perjalanannya. Perjalanan yang sesungguhnya. Saatnya dia mendapatkan balasan akan setiap amalnya. Dan itu pula awal kesepian, kehilangan, dan kepiluan ibuku. Setelah banyak ujian dan cobaan yang lain. Bagi ibuku itulah yang terberat.

Bulan demi bulan setelah itu, ibuku mulai belajar mencari hikmah dari cobaan ini. Disatu sisi ibuku bersyukur namun disisi berikutnya belum sanggup melepasnya. Meski kadang banyak senyum yang muncul diwajahnya, namun dikesendirian beliau menangis.

Aku pun tak dapat melakukan apa-apa selain membahagiakan hatinya dengan segala cara. Apapun berani dan harus aku hadapi. Meskipun aku tidak akan dapat menggatikan kakakku dihatinya, aku hanya ingin membahagiakannya. Aku ada padanya hanya intuk berbakti padanya. Seperti apa yang diperintahkan Allah. Surga ada ditelapak kakimu, ibu. Dan surga ada di gegaman Allah.

Satu pelajaran untukku.

Hari ini aku mengalami kecelakaan ringan dijalan sepulang sekolah tadi. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Masih memberiku kehidupan. Seketika aku menabrak mobil seseorang dan aku terjatuh, aku berkata pada diriku sendiri dengan memengang erat helmku “aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, mungkin Allah ga meridhoi aku”. Aku takut apa yang terjadi pada kakakku terjadi pula padaku.

Alhamdulillah, aku masih memhembuskan nafas, masih dapat membuka mata, masih dapat bicara dengan lancer, masih bisa bediri dengan tegap, masih bisa berjalan, tidak terluka sedikitpun, dan masih bisa pulang. Meskipun kondisi muka sepeda morotku hancur. “Nanti ibu mau bilang apapun, ataupun aku ga boleh bawa motor sendiri, aku relaaa…..”Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana khawatirnya ibu dan bapak pada anak semata wayangnya ini.

Dan benar ibuku berkata padaku “ Habis jatuh dari mana kamu, nduk” dengan nada menyesal telah membawakanku sepeda motor. Ibuku tidak marah padaku, hanya berpikiran bahwa ibu tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika aku mengalaami hala yang terjadi pada kakakku. Ibu sungguh khawatir dengan kejamnya jalan raya.

Sebelum aku menabrak mobil seorang itu, aku membayangkan bagusnya sepeda motorku jika aku beri aksesoris-aksesoris sepeda motor. Aku merancanakan akan mepermaks sepeda motorku. Membuat sepeda motorku beda dengan yang lain. Menempelkan stiker, merubah warna sepeda motorku, mengganti rem dan spionnya, namabahkan box dibelakang sepeda motor, menambahkan kaca dimukanya. Jadi bisa dibanggakan. “lho kok berhenti?” akhirnya… “ BBBRRAAAKK…. BRUUUKKK” aku terjatuh…

Jumat ini seharusnya aku ikut halaqoh. Tapi aku menghindari halaqoh, istigosah disekolah, dan aku malas. Jadi aku memilih pulang saja dari sekolah. Mungkin Allah menghukumku. Semoga allah mengampuni hamba kecilNya ini, yang sedang nakal. Dan juga bisa jadi karena aku terlalu membanggakan sepeda motorku ini.

Satu pelajaran lagi untukku.

assalamualaikumwarokhmatullah...

Jika kamu
berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menuggu waktu sore.
pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.

HR.Trimidzi 2153

inilah aku

Foto saya
Sidoarjo, jawa timur, Indonesia
aku lahir di Sidoarjo tepatnya tahun 1993 aku tinggal bersama keluargaku yang santai. Aku masih bersekolah. Aku beruntung karena kau lahir dalam keluarga yang semuanya beragama islam.Tapi bukan berarti aku bebas dalam serangan setan yang akan mengoda dan melemahkan iman.Berpositive thinking dan berserah diri...itulah diriku,,yang selalu berusaha menjaga diri semoga aku dapat menempuhnya amien... Allah pun menyanyangiku selalu memberiku rezeki walo aku tak minta walo aku sering berbuat dosa tak juga Allah tapi juga Nabi Muhammad SAW karena kalo bukan karena beliau,,aku pun tak akan bisa mengenal islam yang sangat sempurna ini....aku tinggal Ayahku,seorang yang misterius bagiku Ibuku,,,yang pasti selalu menyanyangiku tapi tetap semua itu pasti karena Allah Dia mempertemukan aku dengan mereka Dia yang menjadikanku anak mereka Dia yang memberiku cobaan lewat mereka dan Dia mengajariku,mendidiku,membimbingku lewat mereka dan pasti tidak pantas aku durhaka padaNya dan kedua orang tuaku Dan dari sinilah aku mulai ceritaku, inilah aku, aku memiliki saudara yang sangat sepesial bagiku bismillahirrokhmanirrohkhim....