Rabu, 27 April 2011

Sebuah Jalinan Kasih part 2

Belum selesai kisah ini. Masih disana, aku dan Ukhti Fia masih di pinggir danau itu. Dan aku resah menunggu kedatangan Akh Slamet. Beliau sudah janji datang kerumah. Apa kiranya yang akan diperbuat di rumahku? Tak biasanya jika tanpa alasan seorang ikhwan ke rumahku. Dengan siapa Akh Slamet datang ke rumahku? Setelah Akh Slamet membuat sekenario ini, apa lagi yang akan diperbuat? Kedatangan Ukhti Fia ini saja sudah mengejutkanku.

Yang ditunggu pun telah datang. Awal pertama yang kulihat adalah Akh Slamet, selanjutnya ada Akh Nur, lalu temanku Akh Hastono, selanjutnya dia. Fitri dan Ifa. Aaahhh… mengapa mereka semua datang? Siapa lagi yang lain? Jangan dia! Jangan dia yang datang! Ini saja sudah membuatku diam tak dapat bicara. Mengapa harus datang disini? Sungguh tidak dapat aku hindari. Inilah aku yang sebagai tuan rumah dan mereka adalah tamu. Sebuah beban berat menjadi tuan rumah yang baik ketika itu.

Diam. Aku diam dan mereka diam duduk di meja itu. Aku menunuduk. Aku bingung apa yang akan aku perbuat dan apa yang akan mereka perbuat. Tapi Alhamdulillah Ukhti Fia mencairkan suasana yang cukup tenggang itu.

Tapi tetap saja, aku canggung. Tapi aku percaya akan berujung indah. Tak lama Fitri mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kado. Dia berikan padaku lalu aku terima. Menunuduk lagi. Aku memang belum sanggup menatap mata-mata mereka.

Dari pada tidak berbuat apa-apa, aku buka perlahan kado dari mereka. Selembar kertas foto yang tidak seberapa bagus aku keluarkan dari bungkus kado itu. Foto yang ada banyak fotoku disana. Yang terlintas dipikiranku adalah seorang yang mengedit foto ini mengerjakannya terburu-buru dan pengeditannya kurang bagus. Inilah aku yang hidup dilingkungan seni rupa yang dilihat hanya estetikanya saja. Padahal mereka sudah susah payah mencoba menghiburku.

Selanjutnya tiga lembar kertas yang tidak aku baca ketika itu. Hanya aku letakan saja dengan gerak badan yang amat kaku dan canggung. Lalu ada jilbab berwarna biru. Mereka telah memilih warna biru. Warna kesukaanku. Dan berulang lagi, aku menilai estetika dari jilbab ini. Sangat jahat apa yang sedang aku pikirkan “Buat apa mereka membelikan aku jilbab, padahal sudah ada puluhan jilbab dilemariku yang kurasa lebih baik dari ini” lalu tak lama pula menyusul sebuah kalimat di benakku “ Ikhlas neng.. ikhlas… cinta itu ikhlas… ikhlas menerima dan ikhlas memberi… neng!”

Lalu sebuah majalah yang ada disana. Aku keluarkan semua dari bungkusan itu. Tanpa aku nikmati semua. Suasananya begitu tegang. Semua sudah aku keluarkan dari bukusan itu. Cukup banyak. Dan aku letakkan lagi dengan gerak badan yang kaku dan tegang.

Diam lagi. Semua diam. Dan aku masih tetap sperti awalnya. Menunuduk dalam. Seakan terdakwa yang akan menunggu keputusan sang hakim. Sampai kapankah ini berakhir? Apakah ini akhir dari tempatku perpijak? Siap-siaplah akan segala yang akan terjadi, Laras! Tenang-tenang…. All is well…

Semua mulai mencair ketika Ukhti Fia sudah mulai berbicara mencoba mencairkan suasana. Dan aku pun tetap terdiam dan menikmati suasana itu. Mereka tertawa aku pun ikut tertawa juga. Berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Dan mencoba menghargai segala usaha mereka untukkku. Untukku kembali lagi bersanda guarau dengan mereka.

Apapun yan terjadi, apapun yang kalian mau .. terserah kalian. Semua sudah berakhir dihari itu. Aku tidak bisa menjadikan semua itu sempurna. Aku rasa sebuah perdamaian yang ada setelah aku terbakar oleh cemburu. Dan disulut oleh setan.

Aku haya memikirkan mereka saja. Janganlah sampai mereka yang tersakiti olehku. Biarlah aku sendiri saja yang sakit. Aku tidak boleh menghidari masalah. Disanalah letak masalahnya. Berat menerima mereka maka aku harus berbesar hati menerima mereka apa adanya.

Disebuah perjalan itu, aku bertemu dan bercakap dengan seorang trainer out bond. Dan dia berkata padaku. Bahwa jika aku masih berat bersama mereka, bermain dengan mereka, berkomunikasi seperti bisanya dengan mereka. Jika semua hal itu masih berat kulakukan, itu berarti hati ini masih belum bisa meemaafkan mereka. Itulah letak masalahnya. “Jangan hindari masalah, hadapilah. Kuatkanlah hatimu dan jagalah emosimu”. Begitulah pesan beliau padaku.

Dan di sebuah perjalan hidupku yang lain, ibuku pun berkata padaku bahwa ada luka, ada hal yang menyakiti hati ini, ada hal yang menyinggung hati ini, yang semua itu tidak dapat diungkapkan dan tidak dapat diceritakan.

“ telalu manis untuk dilupakan…” sebuah senandung yang dibawakan oleh Slank. Terasa pas untuk selalu bersyukur dengan segala kondisi. Yaa… semua terlalu manis untuk dilupakan. Inilah sebuah ukhuwah. Pernah aku merasakan kehangatan sebuah persaudaraan islam ini. Dan akan selalu kurasakan setelahnya. Walaupun jika aku sudah tidak meresakan lagi, aku akan berusaha menciptakan kehangatn itu.

Setelah kunjungan mereka berakhir. Rumahku seperti tempat pengingat setiap episode yang aku lalui bersama mereka. Disetiap sudut rumahku, aku selalu teringat mereka. Teringat apa yang mereka lakukan dan mereka katakan bersamaku. Bukan hanya saat itu saja, tapi juga disaat yang lainya.

Ketika mereka makan ayam kremes di taman rumahku. Ketika mereka datang hanya untuk merayakan ulang tahunku tanpa aku minta. Ketika mereka datang unyuk mengantarku pulang. Ketika mereka datang untuk menyelesaikan laporan PSG. Ketika mereka datang hanya untuk main PS2. Ketika awal mereka tau rumahku. Ketika mereka dating untuk berta’ziah. Ketika mereka bersama-samna merayakan Idul Fitri. Dan semua episode bersamanya muncul setiap saat disudut-sudut rumahku.

Kadang pun begitu iri melihat kehangatan persahabatan dia dengan seorang fulannah. Lalu segera aku berpaling. Semua itu rekayasa setan. Lupakan saja, Laras! Berbahagialah karena masih banyak teman-teman seperjuangan di jalan dakwah ini. Dan inilah resiko seorang yang memilih dakwah didalam hidupnya.

Dan itulah… sepotang kisah dalam hidupku. Hari berganti dan alam pun berjalan sesuai yang Allah hendaki. Dan aku disini menikmati semua episode yang Allah berikan padaku dengan ego dan obsesiku. Setelah ini. Akan nyata apa yang ditakdirkan padaku. Aku pun siap menjemputnya. Membuat kenangan-kenangan yang indah lagi. Merajut sebuah persaudaraan lagi perlahan dan tertatih.

Dan ternyata aku sanggup melalui semua itu meski sangat berat. Tapi bersiaplah akan semua yang akan terjadi. Bisa saja akan lebih berat dari hal ini. Lebih menguji kesabaran. Lebih menguji keimanan. Dan menguji semua hal.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buhan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” Qs. Al-Baqarah : 155

Aku hanya tersenyum penuh semangat ketika Al-Ustad menerangkan ayat ini. Semua memang terasa begitu nyata. Semoga aku dan kalian termasuk golongan orang-orang yang sabar. Dan dengan totalitas menjadikan diri layak menjadi golongan orang-orang sabar tersebut.

Rabu, 26 Januari 2011

Indah untuknya Bukan Indah untukku

Jika di dunia ini dipenuhi orang-orang yang sama seperti aku, apa yang akan terjadi pada dunia ini? Mungkin sudah tidak ada yang saling mengisi, saling memahami, saling bersuka cita, saling bersedih, saling mendengar, saling menyemangati dan saling bercerita. Mungkin akan banyak hal yang membuat perkara, pertengkaran karena satu sama lain mementingkan egonya sendiri.

Seorang seperti aku adalah seorang yang meiliki banyak kekurangan. Banyak tempat di diri ini yang dapat diisi oleh orang lain. Hanya saja, apakah seorang Laras ini mau membuka ruang-ruang kosong itu untuk diisi orang lain?

Diperlukan ketulusan dan keikhlasan menerima orang-orang yang menyayangi dan membenci. Belum tentu apa yang di suka adalh apa yang aku suka. Belum tentu apa yang baik untuknya adalah baik untukku. Indah baginya tidak indah bagiku.

Sabtu, 15 Januari 2011

Pesan dari Seorang Chaidir

Sweet things are easy to buy, but sweet people are difficult to find.
Life ends when you stop dreaming.
Hope ends when you stop believing.
Love ends when you stop caring.
Friendship ends when you stop sharing.

So....
Share this with whom ever you consider a friend. To love without condition... To talk without intention... To give without reason.. and To care without expectation... is the heart of a true

Jumat, 07 Januari 2011

Jenazah itu...


Kini sinar dimatanya sudah mulai meredup tidak seterang yang dulu. Hidupnya pun mulai sedikit berubah. Ada bintang yang hilang dihatinya. Ada senyum yang dulu menghiasi yang telah hilang dalam hari-harinya. Ada hati yang mulai gentar. Itulah ibuku. Matanya yang sayu, dan kepiluan yang tidak dapat di sembunyikan diraut wajahnya.

Setelah kakakku memulai hidup dialam barzah, seperti itulah ibuku. Tidak dapat kutahan tangisku, ketika melihat kegetiran ibuku. Ketegaran yang mulai luntur. Tangis ibuku yang tidak dapat berhenti hingga sekarang meski tidak merantap.

Nduk..sekarang hanya tinggal kamu” kalimat itulah yang diucapakan ibuku padaku setelah melihat jenazah kakakku diruang jenazah. Betapa mengharunya.

Jenazah itu adalah kakakku. Jenazah yang masih memakai jaket birunya. Jenazah yang kaos kaki yang berdarah dan berlubang. Jenazah yang memakai jilbab berwarna merah dan memakai rok ungu. Jenazah yang dua pekan lagi akan menjadi seorang istri. Dan jenazah yang akan menjadi sarjana. Kini tak terlihat lagi.

Aku merindukanmu kakakku. Masih teringat detik-detik perpisahan dengannya. Air yang bercampur dengan kapur barus membasahi badannya. Dia dimandikan banyak perempuan. Kain putih yang membalut badannya. Begitu dia sangat cantik.

Tapi ibu sudah tak mampu lagi menyaksikan kecantikannya yang memilukan. Bukan hanya menangis yang ibu lakukan, tapi juga doa yang tak henti-henti dan juga semua memori bersamanya muncul di benaknya dating bertubi-tubi.

5 februari 2010 lalu, episod itu terjadi. Setelah aku pulang sekolah, kaabar kakakku kecelakaan datang dari mulut mantan kekasihnya. Betapa ibuku tidak percaya akan semua yang diucapakan dia. Tanpa banyak bertanya pada dia. Aku, ibuku, dan bapakku langsung berangkat ke Rumah Sakit Umum di Sidoarjo. Ditengah perjalanan ibuku mencoba memastikan dengan menelpon polisi dan pihak rumah sakit. Tapi sungguh, bukan kabar yang diharapkan.

“ iya bu, ada yang bernama Rizka tapi tidak di UGD tapi langsung ke ruang jenazah” begitulah pihak rumah sakit mengabarkan kepada ibuku.

Bagaimana kacaunya ibuku. Betapa seperti dihujam beribu-ribu batu dari langit. Air mata sudah mulai tertumpah mendengar kabar itu hingga sekarang. Badannya yang kuat sebelumnya sudah mulai melemas. Sudah tidak tau apa yang akan dilakukan. Sudah tidak tau apa yang akan dikatakan.

Aku dan ibuku sudah ada didepan jenazah itu. Aku pun juga tak sanggup menahan tangis lagi. Itulah perpisahan yang nyata bersama kakakku. Itulah saat ketika aku sudah tidak dapat berbicang dengannya. Itulah akhir pertengkaranku bersamanya. Dan itulah akhir candaku bersamanya. Tapi tidak akan pernah doa ini berhenti.

Dan itulah awal perjalanannya. Perjalanan yang sesungguhnya. Saatnya dia mendapatkan balasan akan setiap amalnya. Dan itu pula awal kesepian, kehilangan, dan kepiluan ibuku. Setelah banyak ujian dan cobaan yang lain. Bagi ibuku itulah yang terberat.

Bulan demi bulan setelah itu, ibuku mulai belajar mencari hikmah dari cobaan ini. Disatu sisi ibuku bersyukur namun disisi berikutnya belum sanggup melepasnya. Meski kadang banyak senyum yang muncul diwajahnya, namun dikesendirian beliau menangis.

Aku pun tak dapat melakukan apa-apa selain membahagiakan hatinya dengan segala cara. Apapun berani dan harus aku hadapi. Meskipun aku tidak akan dapat menggatikan kakakku dihatinya, aku hanya ingin membahagiakannya. Aku ada padanya hanya intuk berbakti padanya. Seperti apa yang diperintahkan Allah. Surga ada ditelapak kakimu, ibu. Dan surga ada di gegaman Allah.

Satu pelajaran untukku.

Hari ini aku mengalami kecelakaan ringan dijalan sepulang sekolah tadi. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Masih memberiku kehidupan. Seketika aku menabrak mobil seseorang dan aku terjatuh, aku berkata pada diriku sendiri dengan memengang erat helmku “aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, mungkin Allah ga meridhoi aku”. Aku takut apa yang terjadi pada kakakku terjadi pula padaku.

Alhamdulillah, aku masih memhembuskan nafas, masih dapat membuka mata, masih dapat bicara dengan lancer, masih bisa bediri dengan tegap, masih bisa berjalan, tidak terluka sedikitpun, dan masih bisa pulang. Meskipun kondisi muka sepeda morotku hancur. “Nanti ibu mau bilang apapun, ataupun aku ga boleh bawa motor sendiri, aku relaaa…..”Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana khawatirnya ibu dan bapak pada anak semata wayangnya ini.

Dan benar ibuku berkata padaku “ Habis jatuh dari mana kamu, nduk” dengan nada menyesal telah membawakanku sepeda motor. Ibuku tidak marah padaku, hanya berpikiran bahwa ibu tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika aku mengalaami hala yang terjadi pada kakakku. Ibu sungguh khawatir dengan kejamnya jalan raya.

Sebelum aku menabrak mobil seorang itu, aku membayangkan bagusnya sepeda motorku jika aku beri aksesoris-aksesoris sepeda motor. Aku merancanakan akan mepermaks sepeda motorku. Membuat sepeda motorku beda dengan yang lain. Menempelkan stiker, merubah warna sepeda motorku, mengganti rem dan spionnya, namabahkan box dibelakang sepeda motor, menambahkan kaca dimukanya. Jadi bisa dibanggakan. “lho kok berhenti?” akhirnya… “ BBBRRAAAKK…. BRUUUKKK” aku terjatuh…

Jumat ini seharusnya aku ikut halaqoh. Tapi aku menghindari halaqoh, istigosah disekolah, dan aku malas. Jadi aku memilih pulang saja dari sekolah. Mungkin Allah menghukumku. Semoga allah mengampuni hamba kecilNya ini, yang sedang nakal. Dan juga bisa jadi karena aku terlalu membanggakan sepeda motorku ini.

Satu pelajaran lagi untukku.

assalamualaikumwarokhmatullah...

Jika kamu
berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menuggu waktu sore.
pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.

HR.Trimidzi 2153

inilah aku

Foto saya
Sidoarjo, jawa timur, Indonesia
aku lahir di Sidoarjo tepatnya tahun 1993 aku tinggal bersama keluargaku yang santai. Aku masih bersekolah. Aku beruntung karena kau lahir dalam keluarga yang semuanya beragama islam.Tapi bukan berarti aku bebas dalam serangan setan yang akan mengoda dan melemahkan iman.Berpositive thinking dan berserah diri...itulah diriku,,yang selalu berusaha menjaga diri semoga aku dapat menempuhnya amien... Allah pun menyanyangiku selalu memberiku rezeki walo aku tak minta walo aku sering berbuat dosa tak juga Allah tapi juga Nabi Muhammad SAW karena kalo bukan karena beliau,,aku pun tak akan bisa mengenal islam yang sangat sempurna ini....aku tinggal Ayahku,seorang yang misterius bagiku Ibuku,,,yang pasti selalu menyanyangiku tapi tetap semua itu pasti karena Allah Dia mempertemukan aku dengan mereka Dia yang menjadikanku anak mereka Dia yang memberiku cobaan lewat mereka dan Dia mengajariku,mendidiku,membimbingku lewat mereka dan pasti tidak pantas aku durhaka padaNya dan kedua orang tuaku Dan dari sinilah aku mulai ceritaku, inilah aku, aku memiliki saudara yang sangat sepesial bagiku bismillahirrokhmanirrohkhim....