Belum selesai kisah ini. Masih disana, aku dan Ukhti Fia masih di pinggir danau itu. Dan aku resah menunggu kedatangan Akh Slamet. Beliau sudah janji datang kerumah. Apa kiranya yang akan diperbuat di rumahku? Tak biasanya jika tanpa alasan seorang ikhwan ke rumahku. Dengan siapa Akh Slamet datang ke rumahku? Setelah Akh Slamet membuat sekenario ini, apa lagi yang akan diperbuat? Kedatangan Ukhti Fia ini saja sudah mengejutkanku.
Yang ditunggu pun telah datang. Awal pertama yang kulihat adalah Akh Slamet, selanjutnya ada Akh Nur, lalu temanku Akh Hastono, selanjutnya dia. Fitri dan Ifa. Aaahhh… mengapa mereka semua datang? Siapa lagi yang lain? Jangan dia! Jangan dia yang datang! Ini saja sudah membuatku diam tak dapat bicara. Mengapa harus datang disini? Sungguh tidak dapat aku hindari. Inilah aku yang sebagai tuan rumah dan mereka adalah tamu. Sebuah beban berat menjadi tuan rumah yang baik ketika itu.
Diam. Aku diam dan mereka diam duduk di meja itu. Aku menunuduk. Aku bingung apa yang akan aku perbuat dan apa yang akan mereka perbuat. Tapi Alhamdulillah Ukhti Fia mencairkan suasana yang cukup tenggang itu.
Tapi tetap saja, aku canggung. Tapi aku percaya akan berujung indah. Tak lama Fitri mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kado. Dia berikan padaku lalu aku terima. Menunuduk lagi. Aku memang belum sanggup menatap mata-mata mereka.
Dari pada tidak berbuat apa-apa, aku buka perlahan kado dari mereka. Selembar kertas foto yang tidak seberapa bagus aku keluarkan dari bungkus kado itu. Foto yang ada banyak fotoku disana. Yang terlintas dipikiranku adalah seorang yang mengedit foto ini mengerjakannya terburu-buru dan pengeditannya kurang bagus. Inilah aku yang hidup dilingkungan seni rupa yang dilihat hanya estetikanya saja. Padahal mereka sudah susah payah mencoba menghiburku.
Selanjutnya tiga lembar kertas yang tidak aku baca ketika itu. Hanya aku letakan saja dengan gerak badan yang amat kaku dan canggung. Lalu ada jilbab berwarna biru. Mereka telah memilih warna biru. Warna kesukaanku. Dan berulang lagi, aku menilai estetika dari jilbab ini. Sangat jahat apa yang sedang aku pikirkan “Buat apa mereka membelikan aku jilbab, padahal sudah ada puluhan jilbab dilemariku yang kurasa lebih baik dari ini” lalu tak lama pula menyusul sebuah kalimat di benakku “ Ikhlas neng.. ikhlas… cinta itu ikhlas… ikhlas menerima dan ikhlas memberi… neng!”
Lalu sebuah majalah yang ada disana. Aku keluarkan semua dari bungkusan itu. Tanpa aku nikmati semua. Suasananya begitu tegang. Semua sudah aku keluarkan dari bukusan itu. Cukup banyak. Dan aku letakkan lagi dengan gerak badan yang kaku dan tegang.
Diam lagi. Semua diam. Dan aku masih tetap sperti awalnya. Menunuduk dalam. Seakan terdakwa yang akan menunggu keputusan sang hakim. Sampai kapankah ini berakhir? Apakah ini akhir dari tempatku perpijak? Siap-siaplah akan segala yang akan terjadi, Laras! Tenang-tenang…. All is well…
Semua mulai mencair ketika Ukhti Fia sudah mulai berbicara mencoba mencairkan suasana. Dan aku pun tetap terdiam dan menikmati suasana itu. Mereka tertawa aku pun ikut tertawa juga. Berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Dan mencoba menghargai segala usaha mereka untukkku. Untukku kembali lagi bersanda guarau dengan mereka.
Apapun yan terjadi, apapun yang kalian mau .. terserah kalian. Semua sudah berakhir dihari itu. Aku tidak bisa menjadikan semua itu sempurna. Aku rasa sebuah perdamaian yang ada setelah aku terbakar oleh cemburu. Dan disulut oleh setan.
Aku haya memikirkan mereka saja. Janganlah sampai mereka yang tersakiti olehku. Biarlah aku sendiri saja yang sakit. Aku tidak boleh menghidari masalah. Disanalah letak masalahnya. Berat menerima mereka maka aku harus berbesar hati menerima mereka apa adanya.
Disebuah perjalan itu, aku bertemu dan bercakap dengan seorang trainer out bond. Dan dia berkata padaku. Bahwa jika aku masih berat bersama mereka, bermain dengan mereka, berkomunikasi seperti bisanya dengan mereka. Jika semua hal itu masih berat kulakukan, itu berarti hati ini masih belum bisa meemaafkan mereka. Itulah letak masalahnya. “Jangan hindari masalah, hadapilah. Kuatkanlah hatimu dan jagalah emosimu”. Begitulah pesan beliau padaku.
Dan di sebuah perjalan hidupku yang lain, ibuku pun berkata padaku bahwa ada luka, ada hal yang menyakiti hati ini, ada hal yang menyinggung hati ini, yang semua itu tidak dapat diungkapkan dan tidak dapat diceritakan.
“ telalu manis untuk dilupakan…” sebuah senandung yang dibawakan oleh Slank. Terasa pas untuk selalu bersyukur dengan segala kondisi. Yaa… semua terlalu manis untuk dilupakan. Inilah sebuah ukhuwah. Pernah aku merasakan kehangatan sebuah persaudaraan islam ini. Dan akan selalu kurasakan setelahnya. Walaupun jika aku sudah tidak meresakan lagi, aku akan berusaha menciptakan kehangatn itu.
Setelah kunjungan mereka berakhir. Rumahku seperti tempat pengingat setiap episode yang aku lalui bersama mereka. Disetiap sudut rumahku, aku selalu teringat mereka. Teringat apa yang mereka lakukan dan mereka katakan bersamaku. Bukan hanya saat itu saja, tapi juga disaat yang lainya.
Ketika mereka makan ayam kremes di taman rumahku. Ketika mereka datang hanya untuk merayakan ulang tahunku tanpa aku minta. Ketika mereka datang unyuk mengantarku pulang. Ketika mereka datang untuk menyelesaikan laporan PSG. Ketika mereka datang hanya untuk main PS2. Ketika awal mereka tau rumahku. Ketika mereka dating untuk berta’ziah. Ketika mereka bersama-samna merayakan Idul Fitri. Dan semua episode bersamanya muncul setiap saat disudut-sudut rumahku.
Kadang pun begitu iri melihat kehangatan persahabatan dia dengan seorang fulannah. Lalu segera aku berpaling. Semua itu rekayasa setan. Lupakan saja, Laras! Berbahagialah karena masih banyak teman-teman seperjuangan di jalan dakwah ini. Dan inilah resiko seorang yang memilih dakwah didalam hidupnya.
Dan itulah… sepotang kisah dalam hidupku. Hari berganti dan alam pun berjalan sesuai yang Allah hendaki. Dan aku disini menikmati semua episode yang Allah berikan padaku dengan ego dan obsesiku. Setelah ini. Akan nyata apa yang ditakdirkan padaku. Aku pun siap menjemputnya. Membuat kenangan-kenangan yang indah lagi. Merajut sebuah persaudaraan lagi perlahan dan tertatih.
Dan ternyata aku sanggup melalui semua itu meski sangat berat. Tapi bersiaplah akan semua yang akan terjadi. Bisa saja akan lebih berat dari hal ini. Lebih menguji kesabaran. Lebih menguji keimanan. Dan menguji semua hal.
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buhan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” Qs. Al-Baqarah : 155
Aku hanya tersenyum penuh semangat ketika Al-Ustad menerangkan ayat ini. Semua memang terasa begitu nyata. Semoga aku dan kalian termasuk golongan orang-orang yang sabar. Dan dengan totalitas menjadikan diri layak menjadi golongan orang-orang sabar tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar