Pernah kutulis sesuatu di buku pelajaranku ketika aku masih smp
”Neraka masih cukup untuk menampung manusia-manusia disekolah ini”
Entah apa yang aku fikirkan. Tapi ketika itu aku dalam kedan marah yang sangat. Ketika aku melihat teman-temanku banyak yang berpacaran, mencontek seluruh soal ebtanas, mengumbar kata-kata kotor, dan banyak hal-hal yang membuatku banyak berfikir.
Kini aku sudah baligh. Aku sudah semakin tua. Semakin bayak amanah yang kutanggung. Semakin banyak tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabakan.
Aku pernah dengar ketika aku mengikuti kajian.
”tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan”
Apa yang kudengar itu tidak ada yang salah dan aku nyakin 100% benar.
Hari sabtu, sepulang sekolah. Aku berangkat menuju smpku dulu. Aku bertemu dengan guru-guru, bu kantin, guru tapak suci. Yang mereka bilang adalah aku banyak berubah dari bentuk fisik dan perilaku.
Dan aku semakin tersadar bahwa guru-guruku yang dulu jarang aku hargai adalah guru-guru yang sebenarnya. Guru-guru yang banyak berperan dalam hidupku. Wajah yang selalu berpancarkan iman, keikhlasan, kesabaran, kecerian, kepandaian. Ternyata guru-guru itu tak pantas jika api neraka menjilat tubuhnya. Karena peranya, mereka membuatku hafal beberepa surat juz ammah yang sekarang masih kuingat, mereka membuatku semakin bersemangat untuk meimpikan ilmu dan mengapainya, mereka membuatku rajin membaca buku ppkn yang sanagat menyebalkan, mereka membutaku berani mendaftar diri di SMAN 1 Sidoarjo.
Ehm...aku sadar betapa rindunya aku pada mereka. Hingga aku bertekad setelah aku lulus dari ISI Jogja aku ingin kembali untuk mengajar seni rupa di smpku itu dan melukis intrik, kemesraan, keakraban, keistimewaan sekolah ku dulu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar