Minggu, 26 Desember 2010

Sebuah Jalinan Kasih part 1

Berat kurasa hari-hari itu. Dimana aku benar-benar meraasa sendiri. Masih terngiang ditelingaku sebuah kalimat yang dia ucap “Kita buat perjanjian, jika aku bisa menyelesaikan ini, kamu harus merubah sikapmu dikelas dan ke fulannah”. Betapa entengnya dia! Dia hanya menyelesaikan saluran air yang tersumbat, jika dibandingkan diriku yang harus berubah. Dia kira aku ini Saras 008? Bukanya itu suatu hal yang berat dan membutuhkan waktu yang lama dengan kondisi yang sedang labil ini?

“ Ehm, dasar!” jawabku padanya dan melenggang pergi darinya.

Hari-hari selanjutnya, aku menjalani hidup dengan sendirian. Sepi. Aku tidak tau harus bercerita kesiapa. Menangis kepundak siapa. Berteriak kemana. Dunia serasa sempit bagiku. Aku pun belum bisa berubah. Sedikit pun hendak untuk memperbaiki hanya sebuah lelucon. Aku takut untuk kembali bersama mereka. Pikirku, mungkin ini saaatnya berpisah.

Jadilah, aku senang, susah, marah, tertawa, sedih, dan semua hanya aku rasakan sedirian. Ahh.. benar-benar berat hari-hari itu. Ketika aku sudah terpisah dengan mereka, masih saja aku saksikan kebersamaan dan kebahagian mereka. Rasanya lebih baik kehilangan dan tidak terlihat lagi dari pada kehilangan tapi tetap terlihatr dan dimiliki orang lain.

Cemburu, iri, dan sedih serasa menyulut hati ini dengan cepat. Berlari dan menghindar tapi tak mampu. Selalu saja bertemu. Memalingkan muka pun percuma. Pergi! Pergi! Aku harus pergi dan segera pergi dari sini! Aku sudah tidak betah lagi!.

Berjuang sendiri. Berjalan sendiri. Setiap malam sudah berbeda. Serasa gelap. Dan setiap pagi datang, ketakutan menggelayuti pikiranku. Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya hari-hari itu aku tidak ke sekolah? Namun, disisi lain masih ada mata pelajaran dan tugas-tugas sekolah yang menuntutku untuk tetap ke sekolah. Dan mengulangi sakit yang sama.

Adakah ini berakhhir? Jika ada seorang bertanya “ Lalu ingin mu seperti apa setelah ini, jika kau begini terus?” Dan seorang lagi bertanya “Memang tidak butuh teman?” Entahlah aku tidak tau.

Suatu ketika, ibu mendekatiku dan bertanya. Setelah ibuku melihat aku menangis sepulang sekolah. Mungkin sudah lama ibuku tidak melihatku menangis sehebat itu. Memang aku belum menceritakan kepada siapa pun. Karena aku tidak dapat mempercayai orang lain. Dan aku tidak ingin mencari-cari perhatian. Bercerita kesana-sini tapi tidak ada solusi dan tindakan. Hanya mengobral aib.

Dan inilah ibuku. Hanya ibuku yang dapat kupercayai. Aku mulai bercerita kepadanya. Hanya ibuku yang langsung bertindak meski tidak langsung dari tangan beliau. Dan ibuku yang memahamiku. Ibuku menyuruhku unuk menyampaikan semuanya kepada mereka, membuka hati lagi, menceritakan apa yang sebenarnya dan apa yang aku inginkan. Disinilah mulai aku saksikan dan aku rasakan bahwa banyak orang yang menyanyangiku.

Pernah sesaat aku berpikir buruk, pesimis dan aku mulai dipermainkan oleh setan. Sudahlah aku tak ingin menjadi depresi dan merusak kondisi jiwaku sendiri. Sejenak aku nikmati alam ini dan berusaha mengontrol hati ini. Aku pandangi langit biru. Betapa luasnya langit dan betapa kecilnya aku. Hamparan bumi ini pun luas. Gedung-gedung pun tidak akan bisa mememnuhi langit dan bumi. Tetap saja terlihat kecil. Masih lebih luas ciptan Allah. Diatas langit masih ada langit. Betapa ringkih, lemah, dan kecilnya aku.

Disana hanya ada aku dan Ukhti Fia. Semoga malaikat pun setia menemani. Beliau datang karena sekenario seorang akh slamet dan teman-teman mereka yang telah dikabari ibuku. Begitulah ibu bertindak. Sebelumnya, aku harus menceritakan semua pada Akh Slamet. Aku bergumam, “Aduh… gimana ya? Kasih tau engga ya….dia ikhwan gitu lo!”

Begitulah aku harus bercerita kepadanya. Dengan ragu aku bicara di handphone dengan sinyal yang terputus-putus dan handphone yang panas ditelinga. “ Ya gimana ya.. akh. Ya awalnya ane yang mulai, ane akh yang salah. Ane yang tiba-tiba membingungkan orang. Ane yang engga terkontrol…” menit-menit berlalu, dengan handphone yang tidak bermutu aku dengarkan tausiahnya, masukannya, dan pencerahannya. Sangat menyejukan. Mereka mengerti bahwa aku yang bersalah, tapi mereka tidak mempersalahkan. Tidak memojokanku. Mereka sungguh indah.

Memang Allah sudah menjamin pada para pendakwa itu. Apa yang diucapakan hanyalah tentang Allah dan RasulNya. Allah memang sudah berkehendak dan memilh mereka diantara semua umatNya. Persis seperti di QS. Al-A’raf : 181

“ Dan diantara orang-orang yang telah kami ciptakkan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berklaku adil.”

Aku terpukau menyaksikan kebaikan mereka. Sungguh sangat nyata dimataku apa yang dikatakan Allah “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orangyang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan. Mereka itu satu sama lain saling melindiungi…” Qs. Al’Anfal :72.

Begitu pun Ukhti Fia. Dipinggir danau itu pula, aku mendengarkan tausiah beliau yang menyetuh hati. “ Ukhuwah itu…” Ukhti fia memberi tausiah padaku “ Dikatakan sehat, jika kedua pihak saling bertanya ‘ Laras ini kenapa?’ dan anti pun bertanya ‘ mereka kenapa?’…”

Aku pun kembali teringat dan terpukau lagi dengat ayat Allah “ Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu menginfaqkan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, dia Maha perkasa, Mahabijaksana” Qs. Al-Anfal : 63.

“ ingat kan dek…” Ukhti Fia meneruskannya “ Anti dipertemukan karena Alllah, di jalan dakwah ini. Bukan seperti ikatan persahabatan yang lain. Ukhuwah ini beda.. dek..” banyak yang beliau sampaikan. Sehingga air mata ini memang pantas untuk keluar dengan diiringi tausiahnya.

Ukh, ada orang yang bertanya ke ane…”. Aku kembali bertanya pada beliau. “ Dia tanya ‘ Sebenarnya ane ini sayang engga seh sama si fulannah’ ane sendiri engga ngerti ukh.. gimana seh sayang itu karena Allah?”

“ Pertanyanmu sulit dek… cinta itu…”. Beliau seperti agak sulit menjawabnya “Cinta itu keikhlasan. Ikhlas untuk memberi dan ikhlas untuk di beri, ikhlas untuk bersama dan ikhlas untuk sendiri, ikhlas untuk menerima dan ikhlas untuk diterima, ikhlas untuk mendapatkan sesuatu dan ikhlas jika tidak medapatkan apa-apa, ikhlas… ya ikhlas untuk segalanya”

Aku hanya diam dan merenungi apa yang beliau katakan. Beliau datang karena Allah. Sebuah ketulusan yang Allah tunjukan . Sebuah proses pendewasaan yang Allah diujikan. Sebuah pelajaran dan hikmah yang Allah berikan.

Tidak ada komentar:

assalamualaikumwarokhmatullah...

Jika kamu
berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi dan jika kamu berada di waktu pagi maka janganlah menuggu waktu sore.
pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang matimu.

HR.Trimidzi 2153

inilah aku

Foto saya
Sidoarjo, jawa timur, Indonesia
aku lahir di Sidoarjo tepatnya tahun 1993 aku tinggal bersama keluargaku yang santai. Aku masih bersekolah. Aku beruntung karena kau lahir dalam keluarga yang semuanya beragama islam.Tapi bukan berarti aku bebas dalam serangan setan yang akan mengoda dan melemahkan iman.Berpositive thinking dan berserah diri...itulah diriku,,yang selalu berusaha menjaga diri semoga aku dapat menempuhnya amien... Allah pun menyanyangiku selalu memberiku rezeki walo aku tak minta walo aku sering berbuat dosa tak juga Allah tapi juga Nabi Muhammad SAW karena kalo bukan karena beliau,,aku pun tak akan bisa mengenal islam yang sangat sempurna ini....aku tinggal Ayahku,seorang yang misterius bagiku Ibuku,,,yang pasti selalu menyanyangiku tapi tetap semua itu pasti karena Allah Dia mempertemukan aku dengan mereka Dia yang menjadikanku anak mereka Dia yang memberiku cobaan lewat mereka dan Dia mengajariku,mendidiku,membimbingku lewat mereka dan pasti tidak pantas aku durhaka padaNya dan kedua orang tuaku Dan dari sinilah aku mulai ceritaku, inilah aku, aku memiliki saudara yang sangat sepesial bagiku bismillahirrokhmanirrohkhim....