Hari ini aku mengalami kecelakaan ringan dijalan sepulang sekolah tadi. Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Masih memberiku kehidupan. Seketika aku menabrak mobil seseorang dan aku terjatuh, aku berkata pada diriku sendiri dengan memengang erat helmku “aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, aku ga apa, mungkin Allah ga meridhoi aku”. Aku takut apa yang terjadi pada kakakku terjadi pula padaku.
Alhamdulillah, aku masih memhembuskan nafas, masih dapat membuka mata, masih dapat bicara dengan lancer, masih bisa bediri dengan tegap, masih bisa berjalan, tidak terluka sedikitpun, dan masih bisa pulang. Meskipun kondisi muka sepeda morotku hancur. “Nanti ibu mau bilang apapun, ataupun aku ga boleh bawa motor sendiri, aku relaaa…..”Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana khawatirnya ibu dan bapak pada anak semata wayangnya ini.
Dan benar ibuku berkata padaku “ Habis jatuh dari mana kamu, nduk” dengan nada menyesal telah membawakanku sepeda motor. Ibuku tidak marah padaku, hanya berpikiran bahwa ibu tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika aku mengalaami hala yang terjadi pada kakakku. Ibu sungguh khawatir dengan kejamnya jalan raya.
Sebelum aku menabrak mobil seorang itu, aku membayangkan bagusnya sepeda motorku jika aku beri aksesoris-aksesoris sepeda motor. Aku merancanakan akan mepermaks sepeda motorku. Membuat sepeda motorku beda dengan yang lain. Menempelkan stiker, merubah warna sepeda motorku, mengganti rem dan spionnya, namabahkan box dibelakang sepeda motor, menambahkan kaca dimukanya. Jadi bisa dibanggakan. “lho kok berhenti?” akhirnya… “ BBBRRAAAKK…. BRUUUKKK” aku terjatuh…
Jumat ini seharusnya aku ikut halaqoh. Tapi aku menghindari halaqoh, istigosah disekolah, dan aku malas. Jadi aku memilih pulang saja dari sekolah. Mungkin Allah menghukumku. Semoga allah mengampuni hamba kecilNya ini, yang sedang nakal. Dan juga bisa jadi karena aku terlalu membanggakan sepeda motorku ini.
Satu pelajaran lagi untukku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar