
Kini sinar dimatanya sudah mulai meredup tidak seterang yang dulu. Hidupnya pun mulai sedikit berubah. Ada bintang yang hilang dihatinya. Ada senyum yang dulu menghiasi yang telah hilang dalam hari-harinya. Ada hati yang mulai gentar. Itulah ibuku. Matanya yang sayu, dan kepiluan yang tidak dapat di sembunyikan diraut wajahnya.
Setelah kakakku memulai hidup dialam barzah, seperti itulah ibuku. Tidak dapat kutahan tangisku, ketika melihat kegetiran ibuku. Ketegaran yang mulai luntur. Tangis ibuku yang tidak dapat berhenti hingga sekarang meski tidak merantap.
“Nduk..sekarang hanya tinggal kamu” kalimat itulah yang diucapakan ibuku padaku setelah melihat jenazah kakakku diruang jenazah. Betapa mengharunya.
Jenazah itu adalah kakakku. Jenazah yang masih memakai jaket birunya. Jenazah yang kaos kaki yang berdarah dan berlubang. Jenazah yang memakai jilbab berwarna merah dan memakai rok ungu. Jenazah yang dua pekan lagi akan menjadi seorang istri. Dan jenazah yang akan menjadi sarjana. Kini tak terlihat lagi.
Aku merindukanmu kakakku. Masih teringat detik-detik perpisahan dengannya. Air yang bercampur dengan kapur barus membasahi badannya. Dia dimandikan banyak perempuan. Kain putih yang membalut badannya. Begitu dia sangat cantik.
Tapi ibu sudah tak mampu lagi menyaksikan kecantikannya yang memilukan. Bukan hanya menangis yang ibu lakukan, tapi juga doa yang tak henti-henti dan juga semua memori bersamanya muncul di benaknya dating bertubi-tubi.
5 februari 2010 lalu, episod itu terjadi. Setelah aku pulang sekolah, kaabar kakakku kecelakaan datang dari mulut mantan kekasihnya. Betapa ibuku tidak percaya akan semua yang diucapakan dia. Tanpa banyak bertanya pada dia. Aku, ibuku, dan bapakku langsung berangkat ke Rumah Sakit Umum di Sidoarjo. Ditengah perjalanan ibuku mencoba memastikan dengan menelpon polisi dan pihak rumah sakit. Tapi sungguh, bukan kabar yang diharapkan.
“ iya bu, ada yang bernama Rizka tapi tidak di UGD tapi langsung ke ruang jenazah” begitulah pihak rumah sakit mengabarkan kepada ibuku.
Bagaimana kacaunya ibuku. Betapa seperti dihujam beribu-ribu batu dari langit. Air mata sudah mulai tertumpah mendengar kabar itu hingga sekarang. Badannya yang kuat sebelumnya sudah mulai melemas. Sudah tidak tau apa yang akan dilakukan. Sudah tidak tau apa yang akan dikatakan.
Aku dan ibuku sudah ada didepan jenazah itu. Aku pun juga tak sanggup menahan tangis lagi. Itulah perpisahan yang nyata bersama kakakku. Itulah saat ketika aku sudah tidak dapat berbicang dengannya. Itulah akhir pertengkaranku bersamanya. Dan itulah akhir candaku bersamanya. Tapi tidak akan pernah doa ini berhenti.
Dan itulah awal perjalanannya. Perjalanan yang sesungguhnya. Saatnya dia mendapatkan balasan akan setiap amalnya. Dan itu pula awal kesepian, kehilangan, dan kepiluan ibuku. Setelah banyak ujian dan cobaan yang lain. Bagi ibuku itulah yang terberat.
Bulan demi bulan setelah itu, ibuku mulai belajar mencari hikmah dari cobaan ini. Disatu sisi ibuku bersyukur namun disisi berikutnya belum sanggup melepasnya. Meski kadang banyak senyum yang muncul diwajahnya, namun dikesendirian beliau menangis.
Aku pun tak dapat melakukan apa-apa selain membahagiakan hatinya dengan segala cara. Apapun berani dan harus aku hadapi. Meskipun aku tidak akan dapat menggatikan kakakku dihatinya, aku hanya ingin membahagiakannya. Aku ada padanya hanya intuk berbakti padanya. Seperti apa yang diperintahkan Allah. Surga ada ditelapak kakimu, ibu. Dan surga ada di gegaman Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar