Kisah ini bermula dari awal pertemuanku satu persatu dengan mereka. Permulaan yang merindukan. Tidak indah tapi mengesankan. Di tengah tahun 2008 lalu…. Allah mempertemukanku dengan mereka, sebagai pewarna hidupku. Dan aku rela mereka mewarnai hidupku dengan warna-warna kesukaan mereka.
Seorang perempuan yang tidak sendiri, melainkan bersama teman-temannya. Mereka duduk di tersa masjid. Dia bukan aku, tapi dia bernama Mar atul Fitria. Seorang yang nampak sama dengan teman-teman lainnya. Sehingga sulit bagiku membedakannya. Gaya berjilbabnya, tinggi badan mereka, dan pakaian mereka hampir sama. Tapi tak sulit tuk berkenalan dan mendekatinnya.
“ Maaf, dapatkah aku meminjam kaos kakimu?”
Awal perminta mohonanku yang amat sangat. Kaos kaki yang dipakainya serta merta kupinjam padanya. Padahal baru kenal. Ada apakah gerangan?
Karena aku tak dapat bergerak keluar, berjalan-jalan di tempat umum tanpa kaos kaki. Sedangkan dirinya mungkin belum mengerti betapa pentingnya kaos kaki bagi seorang muslimah. Dan ada masalah serius dengan kaos kakiku saat itu. Mungkin dapat kupinjam sementara untuk dapat berjalan membeli kos kaki baru dikoprasi sekolah baruku.
Betapa sesungguhnya aku merasa jijik dengan kaos kaki bekasnya orang lain. Tapi tak mengapa. Darurat!. Nyatanya tidak ada kaos kaki di koprasi. Memang koprasi lama, Nampak terkucil dibelakang sekolah dan busuk!
“Ahh…. Dasar!! Kaos kaki aja ga jual! Kalah sama koprasi SDku dulu!!” geramku dalam hati….
Betapa membingungkan saat itu… tapi itulah awal pertemuan yang mengesankan bagiku selain bertemu dibengkel lukis dan lama kelamaan semakin akrab.
Kelas baru, seragam baru, buku baru, lingkungan baru yang terjadi diawal sekolahku. Aku menjadi seorang siswi SMK yang bukan lagi siswi SMP yang imut-imut. Tapi ada sebuah masalah kecil, aku tidak dapat mengenakan dasi. Kerena ketika aku SMP aku tak pernah mengenakan dasi. Di SMPku murid perempuan tidak di suruh untuk mengenakan dasi melainkan mengenakan jilbab lebar. Ketika itu ada seorang teman perempuan yang mempeributkan dasi. Dan aku ikut dalam masalahnya.
Dia laki-laki yang tak begitu menarik perhatian. Seorang yang betah berdiam diri tanpa bicara. Sehingga dirinya mudah dilupakan. Seorang yang berkulit paling putih bersih diantara teman-teman sekelas. Dia bernama Arfian Hendra Pamungkas. Seorang kedua yang aku kenal. Ternyata membantuku mengenakan dasi dan mengajariku.
Sehingga sampai sekarang aku memakai caranya. Hanya caranya yang aku tau dan aku hafal. Entah benar atau tidak. Nyatanya hasilnya tidak pernah rapi. Tapi apalah arti kerapian sebuah dasi jika tiap hari kututup rapat dengan jilbabku.
Pertemuan yang tidak mengesankan bukan? Ternyata lama menjalani hidup sekelas, setempat prakerin, seorganisasi. Cerita yang begitu menggemaskan terjadi bersamanya. Yang tak perlu kuceritakan lebih dalam.
Dia. Seorang yang sok kenal, sok akrab. Tiba-tiba duduk di depan bangkuku dan bercerita layaknya dalang. Mengoceh sana sini layaknya ayam betina yang baru bertelor. Bukan cerita sebenarnya, dia hanya ingin mengajak ngobrol tanpa peduli siapa yang diajak bicara.
Sambil dia mengoceh, dia mempermainkan stipo ditangannya. Layaknya seorang siswa sakit mental, tiba-tiba dia menulis diatas bangkuku. “GINUNG WAS HERE”. Aaaahhh… dari sini aku mengenalnya. Setelah berbuih-buih bicara dan membuatku tertawa hingga perutku sakit. Lalu aku mengerti bahwa orang ini bukan teman sekelasku, dia teman Arfian yang ngocol didepanku. Sedangkan Arfian sendiri tidak ada dikelas. Artinya dia tiba-tiba masuk seenaknya kekelas orang lain.
Ginung bagiku seorang laki-laki yang paling suka ngerumpi dengan siapa saja. Seperti seorang perempuan yang bertemu dengan teman lamanya. Dia laki-laki yang suka membantu orang meski dia musuhnya sekalipun. Tanpa pahmrih. Itulah dia. Maka jangan sekali-kali merasa diatas awan jika dibantu dia. Karena baginya hanyalah sebuah kewajiban sebagai sesama hamba Allah. Bukan hal yang spesial baginya.
Orang ke empat yang aku kenal setelahnya. “ he… pinjem buku PPKN!” kenal tidak, sekelas bukan, gantengpun tidak, tiba-tiba nodong-nodong pinjam buku. Dengan suara yang paling ngebass mengalahkan suara yang sedang ku dengar.
Tanpa aku bertanya namanya, aku serahkan saja bukuku agar cepat pergi dari kelasku. Di kelas ketika itu hanya aku dan dua orang teman yang belum akrab denganku. Dan dengan nyakinku, pasti nanti dia kembalikan.
Suatu ketika setelah kejadian ini, aku adalah seorang sendirian yang menajadi anggota SKI kelas X dengan kakak-kakak kelas yang aku tidak nyakin keberadaannya. Ya aku mengerti dan merasakan organisasi SKI disekolahku mengomabang-ambing. Serasa akan runtuh. Kerena telah lama tidak ada kegiatan.
Setelah aku ditraining oleh USC untuk berdakwah. Organisasi yang memegang SKI disekolahku. Jadilah aku seorang diantara orang-orang yang bersemangat berdakwah. Semangat mereka mengalir dijiwaku. Dan aku merasa bersaudara sangat dekat dengan mereka, perserta training dan panitia training. Dan aku bertekad setelah lulus dari SMK ini akan berjuang bersama mereka meski aku bukan apa-apa.
Ya karena mereka, orang-orang shalih itu, aku bersemangat mengajak banyak orang untuk mengikuti SKI dan berjuang menegakan syariat islam yang lurus di negeri SMKN 11 Surabaya. Aku sangat nyakin pasti ada yang akan bergabung. Kuajak semua orang yang kukenal, tanpa peduli orang itu paham agama atau tidak. Begitu muluk-muluknya aku.
Hingga aku bertemu dengan laki-laki yang meminjam buku PPKN ku itu. Dia yang bekulit hitam yang berbeda jauh dengan Arfian, berambut keriting dan bersuara ngebass.
Serasa membalas teriakannya di kelasku suatu saat lalu “ he… mau ikut SKI ga? Ntar sabtu jam Sembilan ke mesjid ya!!!”. Semua orang ku ajak tanpa kukenal, tanpa peduli siapa.
Sabtu pukul 09.00, seperti yang kujanjikan di tahun 2008. Meski aku datang agak terlambat, aku tetap datang, karena aku sudah membuat janji dengan seorang akhwat untuk mentoring. Bayangkan saja!! Aku mengajak seorang ikhwan untu mentoring akhwat! Dakwah yang sungguh konyol bukan? Tapi ketika membuat janji ukhti itu menyuruhku mengajak semua anggota SKI, seingatku akan ada syuro’.
Tapi, Subhanallah!!! Hanya dia yang datang ke mesjid ini pukul 09.00. dia datang lebih awal dariku!! Dan duduk mengungguku sendirian. Termenung di masjid sekolah. Aku sungguh takjub!! Banyak orang yang aku undang hanya dia yang datang. Dan dia begitu percayanya padaku. Akhirnya kita berkenalan. Dia bernama Hasan Syaifuddin kelas grafis A.
Hasan, aku dan kawan-kawan lain memulai lagi membangun organisasi yang hampir runtuh setelah berkibarnya. Susah payah, kesana sini, mondar mandir, maju mundur, bolak balik. Aaahh..,. begitu menariknya ukhuwah kita. Hingga suatu saat aku melihat seorang Hasan menjadi seorang yang benar-benar ikhwan sejati diantara teman-teman seperjuangan di jalan dakwah ini. Aku sungguh kagum padanya.
Ini dia orang ke lima yang begitu unik. Begitu menjengkelkan tapi begitu tulus. Dia sangat usil!! Diawal bermula bertemu dengan dia. Dia seperti terpesona padaku, meggilaiku… hahahahaha… kurasa aku bagai sang putri yang dipuja-puja. Tapi benar! Dia sangat menjengkelkan!!
Dia terus saja memperhatikanku. Kemana saja. Dimana saja. Rasanya ingin kututup wajah ini dengan buku dan berlari pergi sekencang-kencangnya. Dia menanyai aku, bertanya namaku. Aku jawab tapi entah mengapa aku merasa centil. Dia jadi makin gemes. Aneh!!
Ketika sekolah mengadakan jalan sehat di tahun 2008 lalu, aku berjalan sendirian. Dia tiba-tiba mengikutiku dari belakangku. Aku menghindari becek, dia juga menghindari becek. Mengikuti setiap jejak langkahku. Aku ke kanan, dia ikut ke kanan. Aku ke kiri, dia ikut kekiri. Dia begitu gigih. Hingga aku benar-benar ketakutan padanya. Tak berujung.
Tapi semua penasaraku padanya sirna sudah, setelah dia bergabung di SKI. Akhirnya aku dan dia sama-sama akrab. Dia menjengukku ketika aku di opname di rumah sakit. Bukan dia saja yang menjenguk tapi bersama banyak orang. Tapi aku heran saja. “Bisa saja ni orang nyangsang disini…” aku membantin dalam hati “ jangan-jangan…. Dia naksir aku.. wah kurang cakep ne.. ga’ tipe banget”Orang ke lima ini bernama Hastono Setyo Ladunni. Dia seorang yang begitu tulus, baik pada semua orang, begitu gigih, begitu semangat, dan ketika dia marah, sesuatu yang sangat menjengkelkan baginya. Dia tidak marah-marah tidak senonoh. Dia tidak akan membanting segala peralatan. Tapi dia aplikasikan marahnya ke pekerjaan dia akan membersihkan, merapikan, menyapu, mengepel, berkerja tiada henti dengan wajah paling merengutnya. Padahal sungguh terlihat sekali amarahnya dan badannya terlihat begitu capek. Tapi dia tidak mau berhenti hingga marahnya selesai. Orang yang bermanfaat meski sedang marah.
Merekalah… kelima orang ini. Aku masih ingin mendepkripsikan mereka lebih banyak lagi. Tapi itu tidaklah begitu penting. Banyak hal yang kulalui bersama mereka. Ada yang bersama-sama, ada yang berdua saja dengan salah satu diantara mereka. Nanti jika Allah menizinkannya akan aku dokumentasikan keindahan bersama mereka dengan tulisan-tulisanku.
Dan karena kehadiran lima orang ini aku sanggup meneriakan dalam kesunyian hidupku “ MY LIFE IS COLOURFULL”. Telah tiga tahun bersama mereka. Kini lambat laun satu persatu aku akan kehilangan mereka. Meski berat atau ringan. Pasti aku akan berpisah dari mereka. Karena roda-roda kehidupan masih berjalan. Selayaknya sebuah game ada level-level yang dilalui. Dan tiap level kondisinya berbeda dengan level lainnya. Ada yang lebih berat ada yang lebih ringan. Semua itu bergantung pada kehendak Sang Pembuat Permainan.
Memang butuh kebesaran hati untuk melepaskan mereka. Tapi jika ini memang kehendak Allah, apa yang dapat diperbuat? Kenangkan indah bersama mereka hanya menjadi sebuah kenangan. Ah bukan!! Bukan hanya sebuah kenangan. Tapi sebuah episode pembuktian nanti! Sebagai sebuah pertanggung jawaban. Ya… nanti… Semoga dapat bertemu kembali dan bermesra diSurgaNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar